Selasa, 01 September 2015

SERAT GATHOLOCO (11)


SERAT GATHOLOCO (11)

PUPUH V


Asmaradana




1.Rehning sira wis ngakoni, benjang lamun sira pêjah, rasakna badanmu kuwe, kalawan cahyamu gêsang, obah-osiking manah, anggawa lapal Suksmamu, munggah mring suwarga loka.

Karena kamu sudah mengakui, kelak manakala kamu meninggal, Rasa badanmu (Sthula Sariira/Jasad), berikut Cahaya Hidup (Atma Sariira/Ruh), serta segala sensasi pikiranmu, terbawa pula Suksma (Suksma Sariira/Nafs)mu, naik ke Surga.


2.Sang Ijaril ingkang ngirid, sowan ngarsane Hyang Suksma, yen mangkono sira kuwe, ora ngamungna neng dunya, olehmu dadi bangsat, aneng akherat dadi pandung, anggawa dudu duweknya. 

Sang (Malaikat) Izrail yang mengiringi, menghadap kepada Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib), jika memang begitu dirimu, tidak hanya didunia saja, dirimu menjadi maling, diakherat-pun kamu menjadi maling, karena mengakui menghadapkan sesuatu yang bukan milikmu (tapi kamu akui sebagai hak milik). (Maksudnya makhluk ini semua adalah ‘nihil’ alias ‘tidak ada’. Karena semua ini adalah perwujudan Tuhan. Lantas jika merasa memiliki personalitas terpisah dengan Tuhan, bukankah itu illusi? Seseorang yang mengaku memiliki personalitas sendiri yang terpisah dengan Tuhan, mengklaim punya asset pribadi, berarti sama saja dengan seorang maling, yang mengklaim sesuatu yang bukan miliknya. Dan lagi bagaimana bisa meng-klaim jika ‘diri-nya’ itu sendiri ‘tidak ada’?)


3.Sira aneng dunya iki, kadunungan barang gêlap, ora tuku ora nyileh, sira anggo sabên dina, ing mangka aneng akherat, anggawa dudu duwekmu, dunya-kherat dadi bangsat. 

Didunia ini dirimu, ketempatan barang gelap, tidak beli tidak pinjam, kamu pakai tiap hari, sedangkan diakherat nanti, tetep kamu merasa memiliki yang bukan milikmu, dunia akherat kamu maling!


4.Tanpa gawe jungkar-jungkir, nêmbah salat madhep keblat, clumak-clumik kumêcape, angapalake alip lam, têgêse iku lapal, angawruhana asalmu, urip prapteng kailangan.
Tak ada guna jumpalitan (dalam sembahyang), mendirikan shalat menghadap kiblat, komat-kamit bibirnya, menghafalkan alif lam (maksudnya doa-doa), sesungguhnya makna dari ayat-ayat yang kamu baca (itulah yang harus kamu resapi, bukan hanya sehedar dihafal dan dibaca), karena dari ayat-ayat tersebut kamu akan mengetahui asal, dan tujuan hidup-mu.


5.Sireku kaliru tampi, ngawruhi asale wayah, subuh luhur myang asare, mahrib lawan bakda isak, sayêkti tanpa guna, sipat urip duwe irung, padha wêruh marang wayah. 

Dirimu salah mengerti, sangat-sangat mematuhi waktu-waktu shalat, mulai subuh dzuhur hingga ashar, maghrib dan isya’, sungguh tanpa guna, selayaknya hidup memiliki hidung (maksudnya kepekaan Kesadaran), untuk memahami makna shalat.


6.Yen mangkono sira kuwi, mung mangeran marang wayah, tan mangeran Ingkang Gawe, lamun bêngi sarta awan, pijêr kêtungkul wayah, ora mikir mring awakmu, urip prapteng kailangan. 

Jikalau demikian dirimu (yang hanya sekedar mematuhi waktu shalat dan tidak memahami makna dari shalat itu sendiri), hanya ber-tuhan-kan saat-saat shalat semata, tidak ber-Tuhan-kan yang membuat waktu, siang dan malam hanya, berfokus mematuhi waktu-waktu shalat semata, tidak meniti ke dalam diri, untuk memahami asal kehidupan dan tujuannya.


7.Rasane badanmu kuwi, kagungane Rasulullah, cahyane uripmu kuwe, kagunganira Pangeran, obah-osiking manah, Muhammad kang nggawa iku, duwekmu amung pangrasa. 

Rasa badanmu itu (Sthula Sariira/Jasad), milik/perwujudan Rasulullah (maksudnya Ruh atau Atma), Cahaya hidup (Atma Sariira/Ruh)-mu itu, milik/perwujudan Pangeran (Tuhan/Brahman/Allah), segala gerak-gerik batinmu (maksudnya Suksma Sariira/Nafs), Muhammad yang menggenggam (Muhammad maksudnya juga Ruh atau Atma), milikmu hanya ‘Perasaan memiliki/Illusi’ saja! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar